Home » » Menterjemah Qur’an Dengan Metode Tamyiz

Menterjemah Qur’an Dengan Metode Tamyiz

Written By K2-911FM on 15 Des 2012 | 11.11


INDRAMAYU – K2 FM – Sabtu,15/12-2012, 11:10 WIB

                        Metode Tamyiz adalah formulasi teori Nahwu-Shorof Quantum dengan cara pembelajaran yang mudah dan menyenangkan.  Sebuah metode yang mampu membuat anak SD/MI dan siapapun yang bisa membaca Qur’an 30 juz agar pintar menterjemah Qur’an dan Kitab Kuning dalam 100 jam. Diharapkan dengan metode ini bisa dipertimbangkan dalam muatan lokal di sekolah-sekolah yang bernaung di bawah Kemenag dan Kemendiknas.

                        Radio K2 FM bekerja-sama dengan Pesantren BAYT TAMYIZ Indramayu secara rutin mengadakan siaran ‘on air’ kegiatan pembelajaran Cara Mudah Menterjemah Qur’an dan Kitab Kuning Sistim 100 Jam Melalui Metode Tamyiz. Kegiatan pertama dimulai Jum’at (14/12) di studio 2 K2 FM dari pukul 08.00 sampai 10.00 WIB disiarkan ke seluruh pendengar.  Tak kurang dari 15 santri diajarkan tentang metode Tamyiz oleh Abaza, MM sang instruktur dengan menggunakan buku lembar kerja (work sheed) yaitu Kamus Kawkaban ; kamus khusus berisi 179 halaman untuk memudahkan menghapal tarjamah Qur’an.

                        Kepada K2 FM, Abaza mengemukakan alasan bahwa ukuran 100 jam didasarkan atas hasil riset yang dilakukan di tahun 2009.  Perhitungan 100 jam merupakan cara singkat sejak adanya persepsi masyarakat bahwa untuk bisa menterjemahkan Qur’an dalam Kitab Kuning melalui metode nahfu-shorof dibutuhkan waktu belajar selama empat, lima hingga enam tahun. Kini, dengan jangka waktu empat, lima atau enam minggu saja metode ini lebih efektif.  Karena bila dirata-ratakan waktu belajarnya 3 - 4 jam per-hari, maka menghasilkan waktu lebih kurang 100 jam.

                        Abaza yang juga menulis Kamus Kawkaban bersama DR. Akhsin Sakho Muhammad (Rektor Institut Ilmu Al Qur’an Jakarta) menerapkan pembelajaran dengan istilah LADUNI dan SENTOT.  LADUNI diambil dari bahasa jawa ‘ilate kudu muni’.  Salah satu cara untuk mengoptimalkan penggunaan potensi otak kiri, otak kanan dan otak bawah sadar (shudur) secara seimbang, sehingga hasil belajar akan lebih optimal dengan bersuara keras, kencang dan lantang.  Sedangkan SENTOT (santri TOT); model belajar santri adalah model ustadz yang sedang mengajar / menjelaskan kepada santri : insya Allah, santri otomatis bisa mengajarkan Tamyiz kepada orang lain (konsep START FROM THE END).

Keunggulan metode ini mampu melahirkan anak-anak usia SD bisa terjemah Qur’an dan Kitab Kuning. Sebab pengajarannya mudah, riang gembira, menggunakan titian ingatan berupa lagu-lagu yang populer sehingga tidak terasa jika sedang belajar. Yang sudah belajarpun akan mampu mengajarkannya kepada yang lain.  (Jeffry)
                                                      Abaza, MM memberikan penjelasan tentang metode Tamyiz  (Photo : G. Azis/Dok K2 FM)
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Kang Imron Jagat
Copyright © 2011. K2-911 FM | KIJANG KENCANA - All Rights Reserved
Template Created by Yudhi Harjo
Proudly powered by Blogger