Home » » Sugra Dikukuhkan Sebagai Maestro Tarling

Sugra Dikukuhkan Sebagai Maestro Tarling

Written By K2-911FM on Apr 28, 2017 | 12:05 AM



INDRAMAYU – K2 FM – Jum'at,28/4-2017, 00:05 WIB

                        Meski sempat menjadi polemik darimana musik tarling berasal, jenis musik tradisi itar-suling khas pantura ini akhirnya diakui lahir dari daerah Kepandean Kecamatan/Kabupaten Indramayu. Pengakuan muncul dari sejumlah bukti di kalangan seniman yang mengaku pernah belajar pada Sugra, tokoh tarling asal Kepandean.

                         Almarhum Sugra kala itu mendedikasikan diri serta membagi ilmu kepada seniman tarling baik Indramayu maupun Cirebon sehingga tarling tetap hidup dan berkembang hingga sekarang. Pada September 2014, tokoh seni tarling klasik asal Cirebon Sunarto Marta Atmaja bahkan berucap bahwa tarling lahir di Indramayu atas jasa Sugra.  “Sayalah saksi hidupnya.  Sudah dua kali saya bertemu beliau.  Jadi singkat saja tarling itu ciptaan Wa Sugra dari Indramayu,” tegas ‘Kang Ato’. 
Atas jasanya itu, warga Kelurahan Kepandean bersama Pemkab Indramayu mengukuhkan Sugra sebagai sang ‘Maestro Tarling’. Penghargaan diberikan oleh Mulyana Prawira, SH., Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Indramayu kepada salah satu keturunan keluarga Sugra bernama Kurnadi (49).  Ia merupakan cucu sang maestro.

Hadir pada acara malam pengukuhan di antaranya H. Syamsudin, S.Pd.I., Lurah Kepandean Kecamatan Indramayu, H. Ahmad Fathoni, anggota Komisi B DPRD Indramayu, Sihabudin, Ketua Dewan Kesenian Indramayu, Ramdhan Adhy Kriestanto, S.Pd, Ketua Panitia, seniman-budayawan dan warga setempat.


                      Lurah Kepandean sangat mengapresiasi terhadap kesadaran warga untuk menjunjung tinggi nilai tradisi daerahnya.  Apalagi dengan adanya pengakuan resmi pemerintah daerah terhadap Sugra, pencetus tarling yang asli pribumi Kepandean. Kelurahan Kepandean yang nota bene berada di lingkungan pusat perkotaan masih dapat melaksanakan kegiatan adat tradisional seperti baritan, do’a bersama kepada para leluhur.  “Semoga tradisi yang diturunkan para pendahulu dapat dilaksanakan secara rutin,” kata Syamsudin.

 Sihabudin mewakili Dewan Kesenian Indramayu (DKI) meminta pihak keluarga Sugra agar bersedia memberikan data atau dokumen apapun tentang Sugra sehingga dapat menjadi rujukan dengan harapan ke depan, desa Kepandean akan menjadi kampung budaya.  “Jika itu terlaksana maka akan membangun pertumbuhan ekonomi kreatif selain karena di daerah inipun dikenal sebagai sentra usaha kerajinan kemasan.  Harapan lebih luas lagi segera dibangun menjadi museum budaya untuk kunjungan dan penelitian terkait seni dan budaya,” terang Sihabudin Lebe. 

       Sementara H. Ahmad Fathoni yang mengaku ‘wong Pande’ tak menyangka jika nama Sugra tercatat sebagai tokoh seniman besar di kemudian hari.  “Saya masih ingat semasa kecil sering menyaksikan acara baritan karena kebetulan bersekolah di madrasah ini.  Namun tak pernah terpikirkan bahwa wa Sugra sekarang dinyatakan sebagai pencetus lahirnya tarling,” ungkapnya.

Berbicara so’al pelestarian tarling, Fathoni menyambut baik rencana warga membuat sebuah sanggar tarling di Kelurahan Kepandean.  Pihaknya tentu akan membantu agar generasi muda lebih mengenal kesenian tarling.

                  Acara pengukuhan Sugra ‘Sang Maestro Tarling’ ditutup dengan pagelaran tarling klasik berupa bodoran oleh wa Gotrok dan kawan-kawan, penampilan hadroh anak-anak DKM Masjid ‘Al-Mujahidin’ serta baritan yang melibatkan ibu-ibu warga Kepandean.  (Jeffry) 

 Jelang acara baritan di kantor Kelurahan Kepandean.  (Photo : Dok K2 FM)
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Kang Imron Jagat
Copyright © 2011. K2-911 FM | KIJANG KENCANA - All Rights Reserved
Template Created by Yudhi Harjo
Proudly powered by Blogger